Festival musik dan hiburan sering terlihat menjanjikan. Namun, di balik panggung besar dan jajaran artis populer, ada biaya produksi yang perlu diperhitungkan: honor artis, panggung, perizinan, tenaga kerja, hingga akomodasi.

Sementara itu, pendapatan acara biasanya bergantung pada tiket, sponsor, penyewaan booth tenant, dan penjualan merchandise. Di kota berkembang, kapasitas tiap sumber pendapatan bisa berbeda dari kota besar. Harga tiket mungkin tidak bisa disamakan, dukungan sponsor terbatas, dan jumlah pengunjung belum tentu sebanding dengan transaksi di area tenant.

Risiko muncul ketika model festival kota besar diterapkan begitu saja. Biaya yang tinggi tidak otomatis diikuti pendapatan yang cukup. Akibatnya, acara bisa berisiko tinggi dengan margin tipis, bahkan merugi.

Masalahnya bukan pada festivalnya, melainkan pada model yang digunakan. Setiap daerah memiliki karakter audiens dan kondisi pasar sendiri. Karena itu, perencanaan sebaiknya dimulai dengan membaca daya beli, kebiasaan penonton, potensi sponsor, dan kemampuan tenant. Setelah itu, barulah skala acara, pilihan pengisi acara, harga tiket, dan konsep produksinya disusun.

Festival di kota berkembang tidak harus selalu menghadirkan panggung terbesar atau artis termahal. Format yang lebih sesuai dengan pasar bisa memberi pengalaman yang baik bagi pengunjung sekaligus menjaga acara tetap layak secara bisnis.

Bukan membuat acara sebesar-besarnya lalu mencari cara menutup biaya. Kenali dulu kapasitas pasar, lalu rancang festival yang sesuai.